SOFT CAPITAL: Yakin Sebagai Modal Pebisnis Property

SOFT CAPITAL: Yakin Sebagai Modal Pebisnis Property

Benarkah kita telah yakin, dan benarkah kita dalam keadaan meragu, belum yakin? Di setiap keputusan yang hendak diambil, manusiawi bagi pebisnis sekalipun, dikepung gamang. Diusik keraguan sebelum bulat menjadikan “yakin” sebagai dasar keputusan. “Yakin” sama tahu, paham, benar dan pasti, pengertiannya. Pergulatan “yakin” dan ragu sama tuanya dengan pertanyaan kapan datang hari kiamat, ibaratnya. Dalam masgul yang hanya bisa mengira, “yakin” mejadi tebakan samar yang dilamuri sejenis neurosa. Cemas bergulung yang mengimpit hingga pilihan mendekati bulat penuh. “Yakin” adalah rumah abstrak, tempat refleks, spontan dan “yang dianggap” bersemayam, tidak saja di hati dan pikiran, tapi juga di intuisi.

“Yakin” kebalikan ragu. Setidaknya bisa dijumpai dalam dalil qowaid al-lughah, kitab kecil di pesantren yang dikaji santri muda. Bahwa “yakin itu tak bisa diganti-tukar dengan keraguan”. Ia lekat sebagai yang abstrak. Spontan terjawab dalam frasa peneguhan, tekad dan menyiratkan sikap tanpa ambigu ketika datang pertanyaan.

Sejak lama “yakin” diikatkan dengan prasangka, sebuah dugaan yang ditempatkan sebagai faktor determinan perilaku. Ia dipatri sebagai yang a-sadar, tak kasat, dan tak terasa tapi terkenali di ranah pikiran. Salah kaprah kadung terjadi dan umum dipahami, suatu “yakin” yang segaris pengertian psikoanalisa. Padahal tak kurang dari Pavlov jauh hari telah meragukan yang a-sadar berupa “yakin” itu, sebagai faktor dominan penyebab perilaku organisme individu.

Ada motif yang terpola, ada struktur respon yang permanen sebagai hasil belajar. Juga ada pengkondisian sebagai musabab perilaku menurut Pavlov. Sebab determinan perilaku pada level ini, jika dikaitkan dengan “yakin”, yang juga “rumah” asal keputusan bahkan tindakan, terasa lebih gamblang masuk akal. “Yakin” tak menegasikan akal dan menisbikan kesadaran moral etik individu.

Mengapa sebegitu pentingnya “yakin” dikaitkan sebagai asal keputusan (bisnis)? Yakin mutlak berakibat berani. Terkadang malah offensif menerjang, menampakkan tindak maju melangkah, bahkan ketika tekanan belum lagi datang. “Yakin” menampik yang jumud-beku, serba tidak pasti, menjadi cair terurai.

Sebagai lambaran sikap, “yakin” menelurkan totalitas tindakan dan juga penerimaan lapang yang stabil terhadap hasil capaian. Ia menguatkan keseimbangan, ia juga rumah terakhir harapan. Berguna jika ketepatan hasil akhir di ruang bisnis tak seperti yang digagas semula. Oleh penganut positivisme radikal dan kalangan yang mendewakan memori a-sadar sebagai penentu hasil akhir kejadian, “yakin” yang termanifestasikan dalam perilaku adalah segalanya, sebagai modal pebisnis property, misalnya.

Saya percaya keyakinan adalah muara harapan, mempengaruhi pencapaian. Ia terkadang bekerja melampaui garis nalar, membongkar sekat immatrial yang mengahantui ruang gelap pikiran. Ia juga bisa tampak dalam wajah lain sebagai sumber ketahanan ketika terjadi tekanan. Karenanya saya setuju, “yakin” bisa membuat yang tak pasti seolah teraba nyata sebagai yang telah digenggam. Berlaku sama di bisnis properti, terutama bagi pemulanya.

Hasib As'ad

Hasib As'ad adalah pegiat usaha property developer sejak tahun 2001, bertekad tumbuh dan berkembang dengan terus belajar. Saat ini, mendampingi 7 developer baru mengelola proyek perumahan.

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Switch to our mobile site