Sekali lagi kita bicara tentang soft capital yang ditempatkan setara dengan modal uang di bisnis properti. Saya pebisnis, tentu saja bercara pandang praktis, membebaskan diri dari sekat ketat retorika dan terminologi. Memahami soft capital sebangun pengertian dengan modal sosial atau modal intelektual. Berupa keterampilan komunikasi, pengetahuan, sikap pro sosial, energi kreatif, jaringan, pengetahuan dan lainnya. Melihat potret diri obyektif berkenaan soft capital, rasa-rasanya amat membantu pelaku bisnis menemukan keunggulan kompetitif dalam dirinya yang bersifat permanen melekat. Sebentuk nilai lebih untuk memenangi daya saing.
Di bisnis properti modal uang masih dianggap elementer, menentukan keberlangsungan bisnis. Kita paham uang itu perkara kuantitatif, bilangan angka dalam kadar pemilikan berbeda di tiap orang. Tidak semua orang berkecukupan uang, sementara soft capital adalah urusan kualitatif kepribadian, yang celakanya sering tidak terkenali bahkan oleh diri sendiri. Bila benar uang di bisnis properti adalah faktor elementer, berkaca dari keterbatasan dan kemampuan yang tidak kongruen tersebut, maka tantangan terberat bagi pebisnis properti pemula adalah bagaimana mengubah dan “menjual diri” yang kulitatif tersebut menjadi uang modal yang jelas kuantitatif.
Pengetahuan adalah kunci dan metodologi adalah peta panduan keberhasilan, begitulah kira-kira jargonnya. Mari mulai bisnis properti dengan pengetahuan. Tentang apa saja yang berkait pohon faktornya, rumus dasarnya, skemanya, dan esensi bisnisnya. Begitu mendengar kalimat, “penjualan rumah ini profit 30%” disebut, maka pemahaman pebisnis properti idealnya otomatis tertuju pada surplus yang didapat dari perkalian 30% Harga Pokok Produksi (HPP), yang di dalamnya terdapat komponen tanah, konstruksi, infrastruktur, legalitas, biaya manajemmen, contohnya. Pemahaman detail jenis inilah yang disebut sebagai pengetahuan, hemat saya. Konsepsi abstrak yang definitif dan utuh tentang satu istilah, wujud, atau penamaan di bisnis properti.
Mengapa pengetahuan penting sebagai titik pijak memulai bisnis properti? Karena sampai hari ini kausalitas dan kronologi peristiwa, juga suatu hasil akhir, premis logika runtutnya tetap sama, bahwa; pengetahuan itu mempengaruhi sikap, lalu sikap mempengaruhi tindakan, benar bertindak yang berulang itu dianggap kompeten, sementara keberhasilan itu dekat kepada mereka yang kompeten. Konon..



