betapa tak sempat lagi ku basuh hatiku
dengan embun, salju bahkan debu
maka ku kunyah mushab-mushab berkarat
ku tenggak sabda-sabda keparat
telah terlalu lama imanku berdarah
ditersesatnya jiwa, ku bakar peta-peta
lalu matamu tiba-tiba melontarkan azan
aku sudah tertinggal… !
gereja meneriakkan ratusan genta
dengungan mantra membahana dari vihara
di puncak candi ribuan wajah menyala
aku tengadah !
Tuhan ada di mana-mana..
Jhody Jamastun, 2003
Ada Kuasa dan kehendak dalam doa, setengah memohon, setengah memaksa, manusia berkehendak atas ketakberdayaannya yang lumer nir-kuasa. Jamastun dalam puisinya yang transenden, mencari Tuhan yang ternyata tak jauh dari tempatnya berdiri, tepat mengelilingi diri, tersebar dimana-mana. Tuhan terabaikan dan Tuhan pun tak menggubris, hingga lelah pencarian dan kenakalannya tersambit nasib tak terperi, membawanya pulang kepada Tuhan pula.
Selalu saja ada risalah tentang pencarian dan kehendak. Saling mengarus dan membuntuti, juga saling mengunci. Tentang muasal kehendak diri yang keras, eksesive, dan bahkan bernada “harus” yang khas manusiawi, meski terkadang melampaui nalar keberdayaannya sendiri. Pencarian panjang dan kehendak keras diri yang tak tertakar hingga yang berkadar lalai, kerap luput dari kesadaran subtil yang ruhani. Apa lacur, dititahkan ke bumi manusia memang sarat kehendak, bernafsu, dan pelupa diri meski ia sadar tak benar-benar merdeka dan berkuasa. Ada saja alasan dihadirkan, entah atas dasar meretas nilai normatif bernama cita-cita, mimpi keadilan, utopia pencapaian, niat kemaslahatan atau bahkan sekedar pragmatisme dangkal demi memintal kelimpahan matrial.
Ketika begitu inginnya kita merubah nasib, berpengharapan memilih bisnis property, dengan cepat akal pikirannya kita menghitung, ber-matematika, mengalkulasi untung-rugi, dan bahkan sampai berani menakar segala keniscayaan peristiwa masa depan berbasis akal semata. Menggunakan dalil logis dan tidak logis, kita mengayun cepat meminggirkan ke-tak-terduga-an yang senatiasa bisa berdampak tiba-tiba. Seolah sengkala dan keberuntungan selesai hanya dengan akal pikiran. Cerdik pandai yang bijaksana mewejangkan, “Geserlah pikiran ke dadamu dan tengadahlah, berpaling kepada Tuhan, niscaya (ingin) kehendakmu, juga adalah kehendak-Nya”. Dalam doa manusia mengadu, bermohon dan memasrahkan.



