Rangka Bambu dan Rangka Kayu sebagai Struktur Atap

Rangka Bambu dan Rangka Kayu sebagai Struktur Atap

Maka, Tuhan ciptakan matahari sebagai terang, serta hujan yang mengawal puisi. Matahari bersinar hangat lembut, hujan hadirkan sejuk. Namun, terkadang alam mengamuk. Hujan membentang badai sesaat setelah matahari panas memanggang, hingga resah penghuni bumi. Lalu berlindunglah manusia di dalam rumah-rumah, di bawah sehamparan atap. Atap yang memayungi, atap yang melindungi.

Sudah selayaknya atap tersusun atas rangka yang kokoh, meski hanya terbuat dari bambu ataupun kayu. Untuk menjadikannya kuat, atap terbentuk atas beberapa komponen:

  1. Penutup. Materialnya bisa berupa genteng, dak beton, sirap, ilalang, dsb.
  2. Struktur. Bisa berupa kuda-kuda kayu, struktur baja konvensional, rangka baja ringan, dan sopi-sopi (dinding yang menerus hingga atap, biasanya berbentuk segitiga).
  3. Talang. Bagian ini sering diremehkan. Padahal, pemasangan yang salah akan berakibat fatal. Talang bocor bisa merusak plafon, juga membuat dinding berlumut.
  4. Lisplang. Berfungsi mengunci susunan usuk dan sangat berperan sebagai unsur estetika karena posisinya yang “tampil”.

Struktur, dalam hal ini rangka atap berfungsi menahan beban dan menopang penutup atap. Oleh karenanya, dibutuhkan material yang teguh menahan beban tekan dan tarik. Bambu, kayu, dan baja ringan adalah material rangka atap yang paling banyak digunakan. Tentu disesuaikan dengan desain bangunan dan besaran beban yang harus ditopang. Komponen penyusun rangka atap terdiri dari kuda-kuda, gording, usuk, dan reng. Kuda-kuda sebagai struktur utama, gording tempat bertumpu usuk, sedangkan reng disusun berjajar di atas usuk untuk menyangga genteng.

Rangka Atap Bambu

Untuk beban skala ringan, menggunakan usuk dan reng dari bambu adalah pilihan tepat. Hemat, “hijau”, dan artistik. Jenis yang biasa digunakan usuk dan reng adalah bambu tali (Gigantochloa apus). Agar awet, selayaknya dipilih bambu yang sudah tua, sudah diawetkan, dan dalam keadaan kering. Bahkan, kuda-kuda dari bambu betung (Dendrocalamus asper) yang diperkuat pelat baja dan diisi sambungannya dengan mortar (semen dan pasir) mampu menahan beban sebesar hingga beberapa ton. Fantastis!

Rangka bambu relatif ringan, hingga beban yang ditopang konstruksi lantai, dinding, maupun atap menjadi minimal. Simpul serupa engsel pada sistem rangka teramat fleksibel, mampu bertahan atas terpaan gaya lateral, berupa angin, bahkan terjangan gempa. Seluruh batang mampu bergoyang dengan kondisi struktur tetap stabil. Maka, rangka atap bambu cocok diterapkan di daerah rawan bencana.

Rangka Atap Kayu

Rangka atap ini paling familiar, terutama sebelum maraknya pemakaian atap baja ringan. Tangguh, awet, profilnya standar, pemasangannya mudah karena tukang kayu mudah ditemui, serta memiliki potensi estetika yang tak bisa diganti begitu saja oleh material lain.

Jenis kayu paling baik untuk rangka atap adalah kayu ulin atau kayu besi, karena saking kerasnya. Juga, kayu hitam, yang sering disebut kayu eboni. Sayang, keduanya cukup langka dan mahal. Sebagai pengganti, bisa digunakan kayu bayam, meski serat kayu yang dimiliki tidak cukup bagus. Untungnya, untuk rangka atap, serat kayu sebagai bagian estetika bukanlah hal utama. Selain itu, jenis lain yang bisa digunakan adalah jati, merbau, meranti, nyatoh, kamper, damar laut, sawo kecik, kempas, balau merah, dan kruing.

Profil kayu di pasaran sudah standar sehingga mudah dalam perakitan. Untuk kuda-kuda dan gording menggunakan besaran (dalam sentimeter): 8 x 12 dan 6 x 12, untuk usuk 5 x 7 dan 4 x 6, untuk reng 3 x 4 dan 2 x 3. Besaran yang digunakan tergantung berat dan ukuran penutup, bentang, dan desain atap. Semakin rumit, material yang diperlukan makin banyak. Bentang ideal untuk kayu adalah 4 meter, selebihnya berakibat pemborosan. Kayu dihitung dalam satuan per meter kubik, sementara baja ringan per kg atau per meter.

Kayu dan bambu yang tidak melalui proses pengawetan akan lapuk jika terkena panas dan dingin. Muai susutnya sangat besar serta mudah terbakar. Oleh karena itu, gunakanlah kayu kelas I atau kelas II serta bambu awetan agar kuat dan tahan lama.

Rayap ibarat hantu, musuh utama kedua material ini. Agar tak merajalela, jangan biarkan atap sampai bocor setetes pun hingga membasahi rangka atap. Aroma kayu atau bambu basah akan memancing rayap untuk bersemayam. Jika rayap terlanjur menyerang, segera basmi hingga tuntas!

lead image by Asif Akbar

Tulis tanggapan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*