Praktisi Bisnis Property
+62-274-6944229

Mengenal dan Bermain dengan Perencanaan Arsitektur

Friday, 20 January 2012
Oleh Hasib As'ad

Di Kota Baru, Yogyakarta, kawasan mukim Meneer Belanda tempo dulu, rekam jejak arsitek kolonial kental sebagai penanda zaman. Rumah taman bergaya art deco berciri tahun 1920 an adalah bukti warisan arsitek yang menyejarah. Tak lekang waktu, nyaman ditinggali.

Seperti penari, arsitek melenggok lentur, menggubah kaku yang diam menjadi ritmis, hidup, dan merupa bangunan sebagai simbol —penanda. Ornamen estetik yang megah, monumental, bahkan sakral, lekat dijumpai sebagai wajah peradaban silam. Dari sini lah aristek mulai menggaris.

Bertolak dari wajah beku masa lalu yang bertumpu hanya pada pretensi moral, filosofi, dan estetika, arsitek —di dalamnya termasuk humaniora, sains, politik, teknologi — akhirnya berkembang pada tata fungsi yang fasih melahirkan bentuk, meski yang subtil dari arsitek adalah sintesa seni. Arsitek adalah pengubah.

Kota Baru adalah sebuah kisah sebelum kapitalisme yang ganas, dangkal dan serakah, merenggut. Pesona elok Kota Baru, rumah taman warisan arsitek masa lampau itu koyak. Menyisakan bopeng di sana-sini, terempas modernitas. Wajah aslinya yang khas Eropa kolonial, kini berganti perkantoran, pertokoan, cafe dan segala rupa carut-marut atas nama uang.

Belajar dari warisan Kota Baru, arsitek pada masa skarang, seharusnya lebih berani membebaskan eksperimen komposisi tata ruang, menafsir permainan unsur, dan merancang keberbedaan bentuk. Sanggup melahirkan karya ariterkstur yang unik secara visual, tanpa mengorbankan kedalamannya. Memadu bentuk dan fungsi. Arsitek hidup seusia karyanya, melampaui zaman. Ia menembus ruang waktu masa depan. Artis mati meninggalkan gosip, arsitek mati meninggalkan karya.

Perencanaan Perumahan
Sebagai developer, ketika mengawali sesi perencanaan proyek bersama arsitek, hampir dipastikan saya mengalami perseteruan dua sisi. Antara keinginan meramu kosnsep arsitektur tematik yang berkualitas, dan kepentingan praktis bermotif ekonomi. Menuruti selera pasar.

Mengambil kawasan Kota Baru sebagai teladan perencanaan bukannya tidak mau, tapi imajinasi itu dengan cepat memudar jadi ilusi belaka, bahwa developer dihadapkan pada kenyataan terbatas soal penguasaan lahan dan juga pertimbangan ongkos produksi yang pada gilirannya berpengaruh terhadap harga jual. Alasan klasik yang oleh sementara arsitek dibenci karena dianggap sebagai kerangkeng kreatifitas. Memasung idealisme.

Meski demikian, masih ada harapan di antara ruang sempit keterbatasan itu. Kecil itu indah dan bisa bernilai tinggi, seraya menghibur diri, saya menyemangati arsitek dengan kalimat ini. Kompromi saya megistilahkannya, diarahakan untuk menjawab akar masalah lahan yang sempit dan bangunan kecil sesuai kebutuhan, karena arsitektur bukanlah urusan perburuan filosofis atau estetis semata, sekedar membuat terkesima, melainkan mempertimbangkan kebutuhan rancang bangun manusia sehari-hari, memanfaatkan teknologi untuk men-design lingkungan nyaman, berdasar perilaku penghuninya.

Ongkos produksi serupa momok bagi developer, menguras energi penghabiasan bernama biaya. Perencanaan proyek yang baik, visibel, dan masuk akal mau tidak mau harus mengakomidir faktor biaya. Menebus apa yang dikendaki pasar, yang laku dijual, layak secara teknis arsitertural, dengan besaran biaya.

Beberapa developer, termasuk saya, senantiasa mencoba menyemat kembali bayang-bayang keindahan taman Kota Baru di perncanaan. Merekam jejak keabadian pada kawasan anggun, selaras, mengundang decak kagum, manusiawi, dalam wajah arsitetktur yang ikonik. Yang terdahulu, yang nyaris punah, tak hendak ditinggalkan, justru dituju.

Tema pertentangan antara konsep aristektur tematik dan arsitektur ”kosmetik” —comot sana-sini, asal pantas, dangkal, dan berselera pasar, bukan sesuatu yang baru dalam ranah developer. Meski menyisakan gagasan segar, pertentangan ini berasa ganjil, apologis dan permisif —serba boleh. Tercatat selama ini, dinamika kebrutalan pasar yang mengungkung deras, meluluh-lantakkan semangat utopia “karya”, memberi pilihan-pilihan sulit bagi developer. Di belahan kota besar mana pun, tingginya harga lahan tanah dan ongkos produksi yang tak selalu berbanding daya beli, lebih mendasar sebagai masalah ketimbang utopia estetika. Pasar bukan saja mendikte ekonomi, tapi juga mengubah perilaku dan kebudayaan.

Saya, seraya menarik nafas dalam-dalam, tak bisa mengelak selaku developer, terjerembab dalam kompromi tragis ketika mengeja perencanaan perumahan. Sebisa mungkin berkelit dari sergapan tangan pasar yang pragmatis, brutal, dan tak beraturan. Tetap berupaya menyeilpkan sejumput  ide, mengasah sense yang dalam atas ketiga  hal ini; karya yang estetik mempesona, kelayakan teknis yang tetap nyaman, dan pertimbangan biaya produksi. Maafkan..

Hasib As'ad adalah pegiat usaha property developer sejak tahun 2001, bertekad tumbuh dan berkembang dengan terus belajar. Saat ini, mendampingi 6 developer baru mengelola proyek perumahan.
Suka? Bagikan dong :)

Silahkan isi formulir berikut untuk menanggapi

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Nama dan Email harus terisi. Tanggapan anda akan melewati moderasi sebelum ditampilkan secara permanen.

Anda bisa gunakan kode-kode HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>